Usia Bertambah, Pahala Jangan Berkurang

Ceramah Tarawih | Ramadhan 2026

Mukadimah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Sambil tersenyum dan menatap jamaah]

Bapak-bapak, Ibu-ibu, jamaah shalat Tarawih yang semoga selalu dalam lindungan Allah.

Bagaimana kabarnya? Sehat semua? Alhamdulillah... Yang suaranya masih serak-serak karena habis buka pake es teh manis? Atau yang masih kenyang berat karena lauknya banyak? Santai-santai aja, yang penting kita semua masih bisa hadir di sini, di rumah Allah ini. Itu sudah nikmat yang luar biasa.

Malam ini saya ingin mengajak kita semua merenung sejenak. Judulnya ringan tapi dalam: "Usia Bertambah, Pahala Jangan Berkurang."

[Agak bergurau]

Coba saya tanya... siapa di sini yang kemarin ulang tahun? Atau minggu lalu? Atau bulan lalu? Mungkin ada? Atau jangan-jangan semuanya sudah lama banget nggak ngerasa ulang tahun? Hehehe...

Tapi sadar nggak sadar, bapak-ibu sekalian, setiap detik yang lewat, usia kita terus nambah. Rambut mungkin mulai memutih, badan gampang pegal, naik tangga sedikit ngos-ngosan. Itu semua alarm dari Allah.

Pertanyaannya: ketika usia bertambah, apakah semangat ibadah kita ikut bertambah? Atau jangan-jangan malah berkurang?

Saya tanya jujur ya... Dulu waktu masih muda, shalat subuh ke masjid semangat. Sekarang? Kalau bangun kesiangan, kadang mikir, "Ya udah shalat di rumah aja." Dulu waktu puasa, Tarawihnya full 23 rakaat. Sekarang? 8 rakaat udah, "Pak, saya ke belakang dulu, ambil air wudhu." Padahal udah wudhu dari rumah. Hehe... itu kita semua, termasuk saya, perlu introspeksi.


Ayat Al-Qur'an: Hakikat Hidup dan Mati

Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur'an, Surah Al-Mulk ayat 2. Coba saya bacakan:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2)

Nah, bapak-ibu, perhatikan kata-katanya. Allah tidak bilang "siapa yang paling banyak amalnya". Tapi "siapa yang paling baik amalnya". Jadi bukan soal kuantitas, tapi kualitas. Shalat 5 waktu tapi kadang bolong-bolong, ya lebih baik yang rajin 5 waktu tapi hadir hatinya. Sedekah 100 ribu tapi riya, bisa jadi kurang nilainya dibanding yang sedekah 10 ribu tapi ikhlas dan sembunyi-sembunyi.


Hadits: Dua Nikmat yang Sering Dilalaikan

Pernah dengar hadits tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia? Ini hadits riwayat Bukhari, dari Ibnu Abbas. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Dua nikmat yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari)

Coba kita tanya diri sendiri... Pagi ini kita bangun sehat. Bisa jalan. Bisa lihat. Bisa dengar. Udah syukur belum? Atau malah sibuk mikirin, "Waduh, saya belum belanja untuk buka puasa", "Saya belum selesai kerjaan kantor", padahal waktu luang kita habis buat hal yang nggak jelas.

Saya kasih ilustrasi simpel. Misal, kita punya uang 100 juta. Apakah kita akan belanjakan sembarangan? Tentu tidak, kan? Kita pikir-pikir dulu, investasi apa yang paling menguntungkan.

Nah, usia kita ini lebih mahal dari 100 juta. Setiap detik adalah aset. Kalau detik ini kita gunakan untuk gibah, gunjing orang, buka sosmed lihat yang nggak-nggak, scroll TikTok sampai lupa waktu... itu namanya kita merugi. Kita jual mahal usia kita dengan harga murah.

[Bertanya ke jamaah]

Bapak-ibu, kalau disuruh milih: umur panjang tapi malas ibadah, atau umur pendek tapi ibadahnya istiqomah, pilih mana? [Tersenyum dan menunggu respons dari jamaah]. Iya, kita semua pengennya sih umur panjang dan ibadahnya bagus. Makanya kita harus punya strategi.


Satu Kisah Nyata: Utsman bin Affan dan Rekening Pahala yang Tak Pernah Putus

Nah bapak-ibu, bicara soal strategi investasi akhirat, mari saya ceritakan satu kisah nyata dari sahabat Nabi yang luar biasa. Kisah tentang Utsman bin Affan, sahabat yang kaya raya tapi sangat dermawan.

Jadi begini ceritanya. Dulu di Madinah, terjadi kekeringan panjang. Sumber air bersih sangat sulit didapat. Satu-satunya sumur yang masih mengeluarkan air adalah Sumur Raumah. Tapi masalahnya, sumur itu milik seorang Yahudi. Si Yahudi ini jual airnya dengan harga mahal. Rakyat kecil yang tidak punya uang, terpaksa kehausan.

Melihat kondisi itu, Rasulullah bersabda di depan para sahabat: "Siapa yang membeli sumur Raumah lalu mewakafkannya untuk umat Islam, maka baginya surga."

Begitu mendengar sabda Nabi itu, Utsman bin Affan langsung bergerak. Beliau menemui pemilik sumur, si Yahudi itu. Tapi si Yahudi ini pintar, dia nggak mau jual sekaligus. Dia bilang, "Saya hanya mau jual setengahnya. Sistemnya bergantian: sehari untuk saya, sehari untuk Utsman."

Utsman setuju. Beliau beli setengah sumur itu.

Nah, pada hari giliran Utsman, beliau buka air gratis untuk semua orang. Masyarakat berbondong-bondong datang mengambil air sebanyak-banyaknya. Sementara di hari giliran si Yahudi, sepi pembeli. Karena semua orang sudah punya cadangan air dari hari sebelumnya.

Beberapa hari jalan, si Yahudi akhirnya menyerah. Dia datang ke Utsman dan bilang, "Saya jual sisa setengah sumur itu." Utsman pun membelinya dengan harga 20.000 dirham, lalu mewakafkan seluruh sumur itu untuk umat Islam.

Sekarang bapak-ibu, ini yang luar biasa. Sumur itu masih ada sampai hari ini. Bahkan berkembang menjadi kebun kurma yang sangat luas. Pemerintah Arab Saudi mengelola kebun itu, hasilnya untuk anak yatim dan fakir miskin.

Tapi tunggu dulu, ini lebih mencengangkan lagi. Saat ini, di atas tanah wakaf Utsman bin Affan itu sedang dibangun hotel berbintang lima. Dan yang paling menakjubkan: di Dinas Tata Kota Madinah, nama pemilik tanah itu masih tercatat atas nama Utsman bin Affan. Masih atas nama beliau. Padahal Utsman bin Affan wafat tahun 656 Masehi. Sudah lebih dari 1.300 tahun yang lalu. Ribuan tahun sudah Utsman wafat, tapi pahalanya terus mengalir. Karena apa? Karena sedekah jariyah.

Subhanallah... bapak-ibu bayangkan. Setiap tetes air yang diminum orang dari sumur itu selama ribuan tahun, setiap buah kurma yang dimakan anak yatim dari kebun itu, bahkan setiap tamu hotel yang nanti menginap di atas tanah itu... pahalanya terus mengalir ke Utsman bin Affan. Padahal beliau sudah lama tiada.

Nah, inilah yang disebut dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Jadi bapak-ibu, itulah contoh nyata investasi jangka panjang yang tidak ada ruginya.

Pertama, sedekah jariyah. Mungkin kita tidak bisa mewakafkan sumur atau tanah seluas Utsman. Tapi kita bisa mulai dari yang kecil. Al-Qur'an untuk masjid. Kursi untuk majelis taklim. Kipas angin untuk mushola. Setiap orang yang menggunakan itu, pahalanya mengalir ke kita.

Kedua, ilmu bermanfaat. Kita ngajarin anak ngaji. Ngajarin tetangga baca Qur'an. Atau di zaman sekarang, kita share konten kebaikan di medsos. Satu postingan ayat, satu video ceramah, lalu ada yang mengamalkan... kita dapat pahalanya juga. Jangan pelit-pelit ilmu.

Ketiga, anak saleh yang mendoakan. Ini penting. Kalau kita capek-capek nyari nafkah buat anak, jangan lupa didik akhlaknya. Karena kalau anak kita jadi orang shaleh, setiap dia baca Qur'an, setiap dia shalat, setiap dia doain kita... pahalanya nyampe.


Penutup dan Refleksi

Nah, bapak-ibu sekalian, Ramadhan ini adalah momen terbaik untuk menambah pahala. Jangan biarkan usia yang bertambah hanya meninggalkan kerutan di wajah, tapi hati makin dekat dengan Allah.

Coba kita renungkan... mungkin ini Ramadhan terakhir bagi sebagian kita. Mungkin tahun depan kita sudah tidak dipanggil lagi. Maka, isilah sisa usia ini dengan amal yang berkualitas.

Jangan sampai kita tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Tapi jadilah seperti pohon randu, makin tua makin berbuah. Makin banyak memberi.

Dan ingat kisah Utsman tadi. Beliau investasi untuk akhirat dengan sumur itu. Kita juga bisa. Mulai dari sekarang. Dari yang kecil. Yang penting istiqomah dan ikhlas.

Saya akhiri dengan pesan: mari jaga niat. Setiap gerakan shalat Tarawih kita, setiap rakaat yang kita tegakkan, jadikan karena Allah. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ikut-ikutan tetangga. Tapi karena kita rindu surga-Nya.

Semoga Allah menerima amal kita, mengampuni dosa kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar. Aamiin.

وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Catatan untuk penceramah: